RSS Feed

Rabu, 04 Mei 2011

Kisah Tentang Kekurangan dan Kelebihan

Cinta yang Menyempurnakan


Oleh: Elie Mulyadi

Setiap insan dilahirkan tidak sempurna.
Dan ketika bersama-lah kesempurnaan itu tercipta.


Seorang pemuda bertemu dengan gadis pujaannya dalam sebuah pesta. Gadis itu amat cantik dan dilirik banyak pria, sedangkan sang pemuda biasa-biasa saja – tak menarik perhatian siapapun. Di akhir pesta, pemuda itu memberanikan diri mengundang si gadis untuk mengobrol di sebuah restoran. Demi kesopanan, gadis itu setuju. Setelah berhadapan, sang pemuda tak tahu mau bicara apa. Ia sangat gugup. Sang gadis merasa bosan dan ingin pulang. Namun tiba-tiba pemuda itu berkata kepada pelayan, ”Tolong minta garam. Saya ingin menaruhnya di kopi saya.”

Semua orang menatapnya. Dasar pemuda gila, begitu pikir mereka. Masa menaruh garam dalam kopi! Sang pemuda merasa malu jadi pusat perhatian. Tapi ia mencoba tenang. Diseduhnya sesendok garam ke dalam cangkir kopinya. Lalu ia meminumnya. Gadis di hadapannya terbengong dan bertanya, “Mengapa kamu punya hobi seperti itu?” Ia menjawab, ”Ketika aku kecil, aku tinggal di pantai. Aku senang bermain di laut. Aku bisa mengecap rasa air laut, yaitu asin dan pekat, sama seperti rasa kopi yang dibubuhi garam. Setiapkali aku minum kopi bergaram, aku akan teringat masa kecilku, kampung halamanku. Aku jadi rindu rumahku dan kedua orang tuaku yang tinggal di sana.” Si pemuda bercerita dengan mata berkaca-kaca.

Gadis itu tersentuh hatinya oleh perkataan yang lahir dari hati yang terdalam. "Seorang pria yang bisa mengatakan perasaan rindunya akan kampung halaman, pastilah pria yang mencintai rumah, peduli pada rumah, dan bertanggung jawab pada keluarga,” begitu pikir sang gadis. Dia pun bercerita tentang kerinduannya akan rumah, masa kecil, dan keluarganya. Percakapan yang indah pun berlangsung. Itulah awal dari sebuah hubungan. Sang gadis kemudian menyadari bahwa pemuda itulah yang ia impikan selama ini – seorang pemuda yang baik hati, perhatian, dan toleran. Dan sang gadis hampir saja kehilangan pemuda itu, kalau saja tak ada kopi bergaram!

Tak lama kemudian, mereka menikah dan menjalani kehidupan yang indah. Dan setiap kali gadis itu membuat kopi untuk suaminya, ia selalu membubuhkan garam, sebab ia tahu betapa senang suaminya meminum kopi bergaram.

40 tahun kemudian, sang suami meninggal dunia. Ia meninggalkan sepucuk surat untuk istrinya. Bunyinya: ”Istriku, maafkan aku. Aku telah berjanji untuk tidak berbohong padamu seumur hidupku. Namun ada satu hal yang tidak kukatakan dengan jujur, yaitu kopi bergaram. Ingatkah engkau saat pertama kali kita bertemu? Aku begitu gugup saat itu. Sesungguhnya aku ingin gula, namun aku malah berkata ‘garam’. Begitu sulit bagiku untuk mengolah kata, jadi aku teruskan saja cerita tentang kopi bergaram itu. Aku tak pernah tahu itu akan jadi awal dari komunikasi dan hubungan kita! Selama hidup, berkali-kali aku sudah berupaya untuk mengatakan yang sejujurnya, tapi aku terlalu takut untuk melakukannya, takut kamu akan kecewa. Sekarang aku sudah tiada, rasa takut itu sudah tak ada. Jadi aku akan mengatakan yang sesungguhnya: bahwa aku tidak suka kopi bergaram, karena rasanya begitu aneh…namun meminum kopi bergaram seumur hidupku sejak kita bertemu, aku tak pernah menyesali apapun yang kulakukan untukmu. Hidup bersamamu dan memiliki dirimu adalah kebahagiaan terbesar di sepanjang hidupku. Dan bila aku diberi kesempatan kedua untuk kembali ke dunia, aku ingin tetap hidup bersamamu, meskipun aku harus meminum kopi bergaram lagi.”

Air mata jatuh di pipi sang istri dan membasahi surat itu. Ketika suatu hari seseorang bertanya padanya, ”Bagaimana rasanya kopi bergaram?” Dia pun menjawab, ”Rasanya sangat manis....”

(Kisah ini dikirim oleh seorang teman)

Sahabat, siapakah di dunia ini yang tidak mendambakan cinta? Tak ada. Semua orang menginginkan cinta. Tak jarang melakukan segala cara untuk mendapatkannya. Sebab seperti kata pepatah, tanpa cinta, hidup ini terasa hampa. Dengan cinta, hidup sejuta kali lebih mempesona.

Cinta menciptakan kehidupan. Juga bisa menjadi pemberi semangat terbaik. Kesuksesan tercipta karena cinta. Orang-orang sukses ada karena cinta. Mereka lahir dari persatuan cinta ibu-bapaknya, dan sukses karena cinta orang-orang terdekatnya. Di balik kehebatan seorang pria, ada dorongan penuh kasih sang istri. Di balik keberhasilan seorang istri, ada kekuatan cinta dari suami. Cinta menjadi sumber inspirasi yang tak pernah henti.

Sahabat, setiap orang tentu mendambakan cinta sejati. Ingin disayangi dan dicintai. Seperti gadis dalam kisah diatas. Betapa beruntung dia mendapat pasangan jiwa yang mencintainya sepenuh hati. Bahkan saking cintanya, sang pemuda rela minum ’kopi bergaram’ seumur hidupnya, dan masih mau terus melakukannya bila diberi kesempatan kedua untuk hidup bersama gadis pujaannya.

Dalam kehidupan nyata, jarang sekali cinta seperti itu ada. Ketika dipertemukan dengan seseorang, kita berkata, ”ini dia soulmate-ku, teman mengarungi hidupku, penyemangatku!” Dan saat doa cinta terjawab, semua begitu indah pada awalnya. Live happily ever after, seperti akhir sebuah dongeng. Namun seiring waktu bergulir, pernikahan yang bahagia pun mulai menampakkan wajah aslinya. Penuh tikungan dan kerikil. Ada onak duri, yang membuat kita mempertanyakan lagi definisi cinta sejati.
Sahabat, tahukah kita mengapa setiap orang ingin punya pasangan jiwa? Untuk berbagi cinta. Ya! Dengan cinta kita merasa berharga, merasa layak hidup di dunia. Dan untuk berbagi rasa – kegembiraan, kesedihan, keriangan, kegundahan. Ketika masih lajang, kita menjalani hidup sendirian, memendam perasaan sendirian, menghadapi persoalan sendirian. Setelah menikah, ada teman berbagi beban. Cinta sepasang suami istri diciptakan untuk saling menyemangati. Ada beragam taggung jawab dalam hidup yang terasa berat. Namun dengan bahu membahu dalam ikatan kasih, semua jadi terasa lebih mudah dan indah.

Sayang sekali, terkadang kita mendambakan pasangan yang sempurna. Kerap tak menyadari bahwa cinta yang indah lahir bukan dari kesempurnaan pasangan kita. Namun dari kerelaan hati menerima si dia. Kita tak bisa mendapat istri/suami yang sempurna, namun bisa menciptakan cinta yang sempurna. Yaitu dengan menerima pasangan kita apa adanya, lengkap dengan kelebihan dan kekurangannya. Bersyukur atas segala kelebihannya, bersabar atas segala kekurangannya sambil terus bermuhasabah.
Pernikahan adalah momen terindah dalam hidup. Namun seiring perjalanan waktu, kerap timbul tanya: kemanakah cinta yang indah itu? Dulu begitu besar, sekarang kok memudar? Wajah manis penuh kasih, mengapa berubah kecut dan sinis? Di manakah cinta yang menerima? Mengapa yang tumbuh adalah cinta bersyarat? ”Aku cinta kamu, asalkan...” ”Aku cinta kamu, tapi...” Cinta yang menuntut – kamu harus begini, harus begitu. Cinta yang mengkritik – kamu jangan begini, jangan begitu.

Begitu banyak pasangan menikah yang terjebak dalam impian akan kesempurnaan. Dan yang lahir adalah kritikan dan tuntutan. Bila sang kekasih tak lagi sreg di hati, tak sempurna sesuai hasrat nurani, mulai timbul rasa tak puas diri. Tanda tanya pun muncul, ”jangan-jangan bukan dia cinta sejati.” Keretakan pun dimulai. Seorang suami mulai mendata beragam kekurangan istrinya dalam daftar yang panjang, kemudian menjadikannya alasan untuk berpaling ke lain hati. Ia lupa saat-saat awal pernikahan. Susah senang bersama, kebelum mapanan tak dipersoalkan. Sekarang setelah perjuangan dan pengorbanan menampakkan hasil nyata, masa lalu pun dihapus seakan semua tak pernah ada. Yang ada adalah mencari sosok lain yang sekiranya lebih sempurna.

Sebagai contoh, banyak suami yang melihat istrinya hanya dari kacamata yang retak. Menganggap sang istri tak cakap, tak pandai mengurus rumah tangga, dan sebagainya. Tanpa mengukur diri, bahwa dirinya pun jauh dari sempurna. Tak bisa menjadi tulang punggung keluarga, mencari nafkah masih harus dibantu istrinya. Mengapa sang istri punya cacat sedikit, ia langsung mendelik? Seakan dirinya sudah jadi suami yang baik. Kesalahan kecil diperbesar, hanya untuk membuat alasan yang masuk akal, bahwa sah-sah saja untuk menjadi tidak setia.

Ya! Menuntut dan mengkritik, seringkali dilakukan hanya sebagai alasan untuk mencari sosok pengganti. Rumput tetangga memang selalu terlihat lebih hijau. Itulah bukti rapuhnya cinta. Kalau sudah begitu, cinta yang dimiliki sepasang insan bukan lagi cinta yang menyemangati. Tapi cinta yang menyakiti. Tidak membawa pada kesuksesan, melainkan kehancuran.

Sahabat, pasangan jiwa ibarat lilin dalam hidup kita. Tatkala kita bisa menghidupkan api cinta untuknya, maka teranglah dunia kita. Tatkala kita memadamkannya, sekeliling pun jadi gelap gulita. Oleh sebab itu, peliharalah api cinta itu. Agar tetap menyala selamanya. Meski cahayanya terkadang redup, teruslah berada di sisinya. Berjuanglah untuk menjaganya dari tiupan angin kencang, jangan sampai ia padam. Hembuskanlah semangat ke dalam diri pasangan kita. Terimalah segala kekurangannya. Seperti kisah pemuda di atas. Demi mempertahankan api cinta kepada wanita pujaannya, ia rela mengisi 40 tahun hidupnya dengan minum kopi bergaram yang rasanya mengerikan! Jangan bertanya, bisakah saya mendapat pasangan hidup seperti sang pemuda? Tapi bertanyalah, apa bisa saya mempersembahkan cinta kepada pasangan saya seperti cinta yang diberikan sang pemuda kepada istrinya? Bila setiap orang berpikir demikian, takkan ada cinta yang menyakitkan. Yang ada, cinta yang menyempurnakan.

Saya selalu teringat kisah sepasang suami istri berikut ini: suatu kali sepasang suami istri ingin meng-evaluasi hubungan mereka. Keduanya sepakat untuk menulis daftar kekurangan masing-masing, supaya bisa introspeksi. Tibalah saatnya saling melihat daftar itu. Sang suami tersenyum sedih. Karena saat menerima kertas dari istrinya, ia melihat daftar kekurangan yang amat panjang. Sementara itu, sang istri menangis. Karena saat menerima kertas dari suaminya, kertas itu kosong!

Nah sahabat, kita bisa memilih, menulis daftar panjang atau membiarkan kertas kosong. Saya ingin memilih yang kedua. Membiarkan kertas kosong. Agar cinta saya kepada pasangan saya tetap putih tanpa coretan. Sebab ketika si dia mencoret kertas kita, selalu ada kesempatan bagi kita untuk menghapusnya. Yaitu dengan memaafkannya, melupakannya, dan membiarkan rasa cinta tetap putih tak bernoda.
Selamat menghidupkan kesempurnaan cinta!

0 komentar:

Poskan Komentar